Tampilkan postingan dengan label Kapuas Hulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapuas Hulu. Tampilkan semua postingan

Objek Wisata Betung Karihun Kalimantan Barat

Posted by Unknown 15 November 2012 0 komentar
Trend pariwisata yang saat ini condong kepada ekowisata menuntut sebuah destinasi untuk memberikan sebuah nilai tambah (added value) bagi para pengunjungnya. Para ekoturist saat ini juga mengejar sebuah pengalaman baru dari aktivitas wisata yang dilakukannya bukan hanya sekedar media pelepas lelah (refreshing). Salah satu tipe destinasi ekowisata adalah taman nasional. Keunikan, kekhasan bahkan kemisteriusan sebuah taman nasional menjadi nilai daya tarik tersendiri bagi beberapa ekoturist.
Taman Nasional Betung Kerihun mewakili sebuah destinasi berupa ekosistem hutan hujan tropis borneo yang masih alami, berikut dengan kekayaan budaya dari masyarakat lokal yang mayoritas adalah suku dayak. Delapan tipe ekosistem hutan hujan tropis yang membentang dalam luasan 800.000 hektar merupakan sebuah destinasi wisata yang sangat menakjubkan. TNBK menyediakan sebuah fenomena alam, budaya dan surga petualangan bagi para ekoturist. Keanekaragaman atraksi wisata TNBK berupa kekayaan ekosistem dan budaya di kawasan TNBK dan sekitarnya digambarkan dalam motto “You’ll Get It All, Nature, Culture, and Adventure in Betung Kerihun National Park”.
Motto tersebut sudah cukup menggambarkan aktivitas apa saja yang akan didapatkan bila berkunjung ke TNBK. Berbagai aktivitas wisata yang tercakup dalam konteks ”nature, culture, and adventure” dapat dinikmati di setiap DAS yang ada di TNBK. Masing-masing DAS menawarkan fenomena dan pengalaman berbeda.

Alam
Keindahan bentang alam TNBK yang unik dan bervariasi, dimulai dari keberagaman ekosistem, keanekaragaman hayati, hingga tipe geologi kawasan TNBK menyimpan keindahan yang layak untuk dinikmati. Setiap Sungai yang melintasi kawasan TNBK menyimpan pemandangan dan fenomena alam yang unik. Wilayah barat TNBK (DAS Embaloh) dan DAS Sibau merupakan habitat dari spesies kunci kawasan TNBK. Berbagai jenis flora dan fauna endemik dapat dilihat di kawasan ini. Di dalam kawasan TNBK tercatat terdapat 695 jenis pohon yang tergolong dalam 15 marga, dan 63 suku yang 50 jenis diantaranya merupakan jenis endemik Borneo, dimana Dipterocarpaceae mempunyai jumlah jenis terbesar, yaitu 121 dari total 267 jenis yang tumbuh di Borneo. Dari jenis fauna tercatat sebanyak 48 jenis mamalia, 7 primata, 112 jenis ikan, 301 jenis burung dan 103 jenis herpetofauna. Hal yang menarik adalah masih banyak ditemukannya big trees dari berbagai spesies dan fauna endemik seperti, Orangutan “Pygmaeus”, Enggang dan Merak Kalimantan.
Satu hal yang khas adalah keberadaan Sepan di Kawasan TNBK. Sepan adalah tempat yang paling cocok untuk dilakukan pengamatan mamalia besar, dimana mamalia besar sering menuju sepan pada pagi dan sore hari untuk minum. Sepan terdapat hampir di seluruh Sub DAS TNBK. Masing-masing terdapat satu sepan di Sub DAS Bungan yaitu di dekat muara Sungai Pono, di Sub DAS Kapuas Koheng terdapat di Sungai Tahum, di Sub DAS Sibau terdapat di Sungai Payo’, dan di Sub DAS Embaloh di Sungai Gamalung. Sedangkan di Sub DAS Mendalam setidaknya terdapat dua belas sepan. Sepan merupakan mata air dengan kandungan mineral garam yang relatif lebih tinggi dari air di sekitarnya. Mineral garam ini bisa berasal dari rembesan garam-garam yang terbawa air setelah melalui proses kimia dari dekomposisi serasah atau pelapukan batuan induknya.
Titik-titik yang dapat dituju untuk menikmati keindahan alam TNBK diantaranya adalah, Karangan Laboh dengan air terjunnya, Gua Pajau dan Riam Naris yang terletak di DAS Embaloh, Menyakan di DAS Sibau, dan Mentibat di DAS Mendalam.

Budaya
Tujuh sub-etnis dayak yang tinggal di sekitar kawasan TNBK memiliki kekayaan budaya yang dipastikan sangat menarik minat para ekoturist. Dimulai dari Dayak Iban dan Tamambaloh di wilayah barat TNBK (DAS Embaloh), Dayak Kantuk dan Taman Sibau (DAS Sibau), Kayan Mendalam dan Bukat (DAS Mendalam), serta Punan Hovongan di DAS Kapuas masing-masing memiliki kekayaan budaya berupa bahasa, perayaan adat, tari dan musik tradisional, life culture, kerajinan dan rumah adat (rumah betang) yang berbeda dan memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing.
Lokasi-lokasi yang dapat dikunjungi untuk menikmati keberagaman rumah betang ini antara lain adalah di Melapi, Sibau Hulu (Baligundi), Uluk Palin, Sungai Utik, Pinjawan, Sadap dan Sungai Sedik. Rumah betang Uluk Palin sendiri tercatat merupakan rumah betang tertua untuk seluruh etnis dayak yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu.
Rumah panjang merupakan rumah adat khas Etnis Dayak di Kalimantan Barat. Nama lokal untuk rumah ini adalah ”Rumah Betang”. Rumah ini dihuni oleh beberapa keluarga dari etnis bersangkutan. Setiap sub-etnis memiliki desain dan landasan filosofis yang berbeda untuk rumah ini. Pembagian bilik/ ruangan dalam rumah ini mencerminkan stratifikasi unik dari masyarakat tersebut.
Masing-masing etnis masih memegang tradisi dan budaya yang telah diwariskan nenek moyang mereka, salah satunya adalah upacara adat. Upacara adat yang terkenal adalah berupa perayaan panen, dimana tiap etnis memiliki nama berbeda untuk perayaan panen tersebut. Masyarakat Tamambaloh dengan upacara “Pamole Beo”, dan Masyarakat Iban dengan “Gawai”. Selain itu juga terdapat sebuah upacara pengobatan tradisional “Balian” yang dimiliki oleh Masyarakat Dayak Taman.
Petualangan
TNBK juga memberikan sisi petualangan bagi para adventurer. Dari 179 puncak yang dimiliki kawasan TNBK, setidaknya ada 4 (empat) puncak gunung yang layak untuk didaki, yakni Gunung Betung (1.150 m), Gunung Condong (1.240 m) di DAS Embaloh, Gunung Lawit (1.770 m) di DAS Sibau, Bukit Metibat (1.240 m) di DAS Mendalam dan Gunung Kerihun (1.790 m) yang berada di DAS Bungan.
Masih sangat jarang pendaki yang menaiki keempat puncak tersebut, sehingga dipa stikan akan memberikan tantangan berat bagi para pendaki mengingat kealamian jalur pendakian tersebut. Selain pendakian, keempat DAS di wilayah TNBK juga memberikan tantangan khusus bagi petualang air. Arung jeram dengan rute sedang hingga berat tersedia di TNBK. Sungai Embaloh, Sungai Sibau dan Sungai Mendalam memberikan tantangan sedang, sementara Sungai Kapuas dan Bungan memberikan tantangan ekstrim dengan grade 5.
Disamping itu, juga bisa dilakukan variasi petualangan air lainnya, seperti kanoeing, body rafting, ataupun board rafting. Puncak petualangan ekstrim yang dapat dilakukan di kawasan TNBK adalah extreme jungle trekking (jalur migrasi masyarakat Dayak Bukat), cross borneo west to east yang merupakan perjalanan bersejarah dari Dr. Niuwenhuis sebagaimana tergambar dalam bukunya “In Centraal Borneo” (1864), melintasi DAS Kapuas-Pegunungan Muller-Sungai Mahakam.

Jadi, tunggu apa lagi, segeralah berkunjung di Taman Nasional Betung Kerihun.



Baca Selengkapnya ....

Wisata Budaya Sampek Alat Musik Khas Dayak

Posted by Unknown 10 November 2012 0 komentar

Sampek Alat Musik Khas Dayak
Suku Dayak Kayaan memiliki seni musik yang unik. Suku ini memiliki alat musik yang dinamakan sampek atau masyarakat Kayaan menyebutnya sape’ kayaan. Sape’ adalah musik petik. Alat musik sape’ yang dimiliki oleh Dayak Kayaan bentuknya berbadan lebar, bertangkai kecil, panjangnya sekitar satu meter, memiliki dua senar/tali dari bahan plastik. Sape jenis ini memiliki empat tangga nada.
Cara pembuatan sape’ sesungguhnya cukup rumit. Kayu yang digunakan juga harus dipilih. Selain kayu Pelaik (kayu gabus) atau jenis kayu lempung lainnya, juga bisa kayu keras seperti nangka, belian dan kayu keras lainnya. Semakin keras dan banyak urat daging kayunya, maka suara yang dihasilkannya lebih bagus. Bagian permukaannya diratakan, sementara bagian belakang di lobang secara memanjang, namun tidak tembus kepermukaan. Untuk mencari suara yang bagus maka tingkat tebal tipisnya tepi dan permukannya harus sama, agar suara bisa bergetar merata, sehingga mengehasilkan suara yang cekup lama dan nyaring ketika dipetik.
Cara memainkannya, berbeda dengan cara memainkan melodi gitar, karena jari-jari tangan hanya pada satu senar yang sama bergeser ke atas dan bawah. Biasanya para pemusik ketika memainkan sebuah lagu, hanya dengan perasaan saja.
Sape’ Kayaan sangat populer karena irama dan bunyi yang dilantunkannya dapat membawa pendengar serasa di awang-awang. Alat musik sape’ ini biasa dimainkan ketika acara pesta rakyat atau gawai padai (ritual syukuran atas hasil panen padi).Musik ini dimainkan oleh minimal satu orang. Bisa juga dua atau tiga orang. Jenis lagu musik sape’ ini bermacam-macam, biasanya sesuai dengan jenis tariannya. Misalnya musik Datun Julut, maka tariannya juga Datun Julut dan sebagainya.
Bermusik itu bermain mengolah rasa. Petikan dawai menghadirkan dentingan yang memecah kesunyian. Orang Dayak punya rasa bermusik yang tinggi. Musik tradisional tiga dawai telah mengolah rasa.
Tak jauh dari tangga Betang. Seorang pria separuh baya memegang sebuah alat musik tradisional khas masyarakat Dayak: sape atau sampe. Pakaian khas Dayak menghiasi tubuhnya. Ia kemudian memainkan gitar tali tiga yang digenggamnya.
“Kita bermain dengan rasa. Karena sape tidak sama dengan gitar kebanyakan. Tidak ada tangga nadanya. Tidak semua orang bisa memainkan alat musik ini,” kata Stepanus, pemain sape yang berasal dari Kabupaten Malino, Provinsi Kalimantan Timur.
Sujarni Alloy, peneliti Institut Dayakologi mengungkapkan, sape adalah sebuah mitologi dalam masyarakat Dayak. Keberagaman suku bangsa, semakin menambah ciri khas seni dan budaya bermusik. Ia menyebut Dayak Kayaan dan Kenyah yang memiliki kekhasan bermusik dengan tiga dawai itu.
Dayak Kayaan yang mendiami Kalimantan, baik di Sungai Mendalam, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sungai Mahakam, Sungai Kayaan dan sekitarnya di Kalimantan Timur dan Sungai Baram, Telaang Usaan, Tubau dan sekitarnya Serawak-Malaysia, memiliki seni musik yang unik.
Suku ini cukup besar. Dalam groupnya ada berbagai subKayaan, antara lain Punan, Kenyah dan Kayaan sendiri. Suku ini memiliki alat musik yang dinamakan sampek (orang Kayaan menyebutnya Sape’). Sape’ adalah musik petik yang tidak asing lagi di mata para pelagiat seni baik di Indonesia maupun Sarawak-Malaysia.
Musik sape’ yang dimiliki oleh Dayak Kayaan terdiri atas dua jenis. Pertama, berbadan lebar, bertangkai kecil, panjangnya sekitar satu meter, memiliki dua senar/tali dari bahan plastik. Sape jenis ini memiliki empat tangga nada. “Orang kerap menyebutnya sebagai sape Kayaan, karena ditemui oleh orang Kayaan,” kata Alloy.
Sementara satunya berbadan kecil memanjang. Pada bagian ujungnya berbentuk kecil dengan panjangnya sekitar 1,5 meter. Orang menyebutnya dengan sape’ Kenyah, karena ditemui oleh orang Kenyah. Sape’ ini memiliki tangga nada 11-12. Talinya dari senar gitar atau dawai yang halus lainnya, tiga sampai lima untai.
Dari kedua jenis sape ini, yang paling populer adalah Sape’ Kenyah. Karena irama dan bunyi yang dilantunkannya dapat membawa pendengar serasa di awang-awang. Tidak heran pada zaman dulu, ketika malam tiba, anak muda memainkannya dengan perlahan-lahan baik di jalan maupun sepanjang pelataran rumah panjang, sehingga pemilik rumah tertidur pulas karena menikmatinya.
Dengan kekhasan suaranya, konon menurut mitologi Dayak Kayaan, Sape’ Kenyah, diciptakan oleh seorang yang terdampar di karangan (pulau kecil di tengah sungai) karena sampannya karam di terjang riam. Ketika orang tersebut yang sampai hari ini belum diketahui siapa sebenarnya, bersama rekan-rekannya menyusuri sungai, diperkirakan di Kaltim.
Karena mereka tidak mampu menyelamatkan sampan dari riam, akibatnya mereka karam. Dari sekian banyak orang tersebut, satu di antaranya hidup dan menyelamatkan diri kekarangan. Sementara yang lainnya meninggal karena tengelam dan dibawa arus.
Ketika tertidur, antara sadar dan tidak, dia mendengar suara alunan musik petik yang begitu indah dari dasar sungai. Semakin lama dia mendengar suara tersebut, semakin dekat pula rasanya jarak sumber suara musik yang membuatnya penasaran.
Sepertinya dia mendapat ilham dari leluhur nenek moyangnya. Sekembali ke rumah, dia mencoba membuat alat musik tersebut dan memainkannya sesuai dengan lirik lagu apa yang didengarnya ketika di karangan. Mulai saat itulah Sape’ Kenyah mulai dimainkan dan menjadi musik tradisi pada suku Dayak Kenyah, hingga ke group Kayaan lainnya. Kini Sape” Kenyah itu bukanlah alat musik yang asing lagi.
Ketika acara pesta rakyat atau gawai padai (ritual syukuran atas hasil panen padi) pada suku ini, sape kerap dimainkan. Para pengunjung disuguhkan dengan tarian yang lemah gemulai. Aksessoris bulu-bulu burung enggang dan ruai di kepala dan tangan serta manik-manik indah besar dan kecil pada pakaian adat dan kalung di leher yang diiringi dengan musik sape’.
Musik ini dimainkan oleh minimal satu orang. Bisa juga dua atau tiga orang, sehingga suaranya lebih indah. Jenis lagu musik sape’ ini bermacam-macam, biasanya sesuai dengan jenis tariannya. Misalnya musik Datun Julut, maka tariannya juga Datun Julut dan sebagainya.
Ada beberapa jenis lagu musik sape’, di antaranya: Apo Lagaan, Isaak Pako’ Uma’ Jalaan, Uma’ Timai, Tubun Situn, Tinggaang Lawat dan Tinggaang Mate. Nama-nama lagu tersebut semua dalam bahasa Kayaan dan Kenyah.
Cara pembuatan sape’ sesungguhnya cukup rumit. Kayu yang digunakan juga harus dipilih. Selain kayu Pelaik (kayu gabus) atau jenis kayu lempung lainnya, juga bisa kayu keras seperti nangka, belian dan kayu keras lainnya.
Semakin keras dan banyak urat daging kayunya, maka suara yang dihasilkannya lebih bagus ketimbang kayu lempung. Bagian permukaannya diratakan, sementara bagian belakang di lobang secara memanjang, namun tidak tembus kepermukaan.
Untuk mencari suara yang bagus maka tingkat tebal tipisnya tepi dan permukannya harus sama, agar suara bisa bergetar merata, sehingga mengehasilkan suara yang cekup lama dan nyaring ketika dipetik.
Menurut V. Aem Jo Lirung Anya, seorang pemusik sape asal Dayak Kayaan Sungai Mendalam, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tidak jarang pembuat sape’ selalu salah untuk menentukan mutu dari suaranya.
Sedangkan cara memainkannya, jelas berbeda dengan cara memainkan melodi gitar, karena jari-jari tangan hanya pada satu senar yang sama bergeser ke atas dan bawah. Para pemusik ketika memeinkan sebuah lagu, hanya dengan perasaan atau viling saja.
Untuk sementara ini belum ada panduan khusus yang menulis tentang notasi lagu musiknya. Rekaman Musik sape’ ini bisa di dapat seperti Sarawak, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, dalam bentuk kaset tape recorder maupun Compact Disk.
Saat ini sape’ tidak saja bisa dimainkan sendiri bersaman dengan musik tradisi lainnya, tapi juga dapat dikolaborasikan dengan musik modern seperti organ, gitar bahkan drum sebagai pengganti beduk. Saat ini sape’ dapat dibeli di toko kerajinan, hanya saja kebanyakan dari sape’ tersebut sudah tidak lagi asli dan bermutu, bahkan tidak lebih dari fungsi pajangan belaka.
Dan, dawai sape tetap berdenting. Zaman telah mengadopsinya menjadi inspirasi bagi pemusik modern. (*)

Baca Selengkapnya ....

Gawai Di Rumah Panjang Malapi Kapuas Hulu

Posted by Unknown 05 November 2012 1 komentar
Dokumen http://www.kapuasnatute.blogspot.com
Merupakan salah satu prosesi ritual adat dayak taman yang terletak dikabupaten Kapuas hulu Kalimantan barat. Tujuan diadakan acara ini adalah sebagai bentuk penghormatan atau balas budi kepada leluhur dan juga karena keluarga-keluarga yang mengadakan acara ini harus melunasi kewajiban adat karena dimasa lalu keluarga mereka telah ditunjuk untuk melaksanakan gawai oleh pendahulu sebelumnya. Karena acara ini meliputi seluruh dayak taman yang tersebar dibeberapa kampung antara lain, lunsa, sayut, ingko tambe, malapi 1,2, 3, 4 dan 5, dan kampung sauwe maka acara ini membutuhkan persiapan financial, psikologis dan mental yang begitu berat, untuk itu membutuhkan persiapan yang panjang dalam gawai ra kali ini telah dipersiapkan selama sepuluh tahun oleh beberapa keluarga yang khusus membiayai bersama ritual ini.
Keseluruhan prosesi yang panjang dan melelahkan namun sarat dengan makna. Mulai dari hari pertama diisi beberapa ritual adat, antara lain betimang, yaitu para wanita yang dianggap sebagai sesepuh akan menimang atau menceritakan kisah-kisah masa lalu. Kemudian acara pasiap baik untuk masyarakat melapi 3 semalam sebelum acara puncak, khusus untuk warga local. Dalam prosesi tersebut warga yang ikut pasiap akan mengeluarkan busana dan aksesoris terbaik, mata kita akan dimanjakan dengan keindahan busana yang terbuat dari manic-manik dengan segala aksesorisnya, untuk pria akan mengenakan Mandau sebagai pelengkap busana, dimana Mandau merupakan ciri khas yang menjadi satu dengan semua prosesi adat dayak dimanapun, yang mencerminkan kegagahan dan keberanian orang-orang dayak.
Pada hari ke-empat, akan dilaksanakan penyambutan tamu-tamu pria yang datang dengan menggunakan perahu tambe, yaitu perahu bermotor yang dihias sedemikian rupa untuk warga kampung tetangga yang menggunakan jalur sungai melapi dan mobil truk yang dihias membentuk sebuah perahu untuk kampung-kampung yang menggunakan jalur darat. Penyambutan yang sangat meriah dan magis sangat terasa saat menyambut tamu yang berangkat lewat jalur sungai, dimana barisan penari yang terdiri dari gadis-gadis remaja dan perempuan dewasa serta pria-pria yang berpakaian adat lengkap juga berpartisipasi menari untuk menyambut tamu. Seorang pria yang berprofesi sebagai balian dan ditemani seorang wanita lainnya menyanyikan senandung atau menimang yang membuat hati yang mendengarkan terasa sangat terharu dan teringat pada masa lalu. Setelah semua tamu datang, mereka dipersilakan naik kerumah panjang dan dilayani sebaik-baiknya dan benar-bear dihindari ada kekurangan dan kekhilafan didalam melayani tamu karena bisa berimplikasi sanksi moral dan adat, jadi dalam keseluruhan gawai ini tamu-tamu benar-benar diperlakukan dengan sangat hormat dan untuk alasan tertentu pelayanan terhadap tamu perempuan akan lebih diperhatikan lagi.
ViralGen Referral Shopping Pada acara puncak yaitu hari ke-5, dilaksanakan penyambutan untuk tamu-tamu wanita dengan prosesi yang sama namun langsung diikuti acara puncak yaitu mandung atau pengorbanan hewan-hewan yang telah disiapkan. Sebelumnya tamu-tamu wanita akan melaksana acara pasiap yaitu memberikan penganan-penganan yang mereka bawa kepada tamu-tamu yang hadir dengan mengelilingi ruang rumah panjang. Setelah itu baru dilaksanakan acara mandung. Acara mandung ini sungguh mendebarkan, karena hewan-hewan korban akan ditombak sampai sekarat oleh para penombak yang telah bersiap-siap. Acara diteruskan dengan makan bersama hewan korban tersebut kemudian besoknya adalah hari penutupan keseluruhan prosesi gawai dayak adat taman sekapuas-hulu. Tradisi tersebut telah meninggalkan kesan yang mendalam, betapa kayanya kita akan berbagai ragam corak budaya  dan adat istiadat, apabila dikemas dengan baik maka peristiwa tersebut bisa menjadi pasar potensial bagi dunia pariwisata tanah air.
Sumber :   Nina

Baca Selengkapnya ....

Danau Perantu

Posted by Unknown 22 Maret 2009 0 komentar
Pada zaman dahulu -+ 150 tahun yang lalu kampung Nanga Embaloh didiami oleh suku dayak tamambaloh tempatnya disebut keleka' Alah, mata pencaharian mereka bertani atau ladang berpindah. masyarakat yang mendiami Keleka'Alah tersebut apabila ada yang meninggal dunia dikuburkan pada suatu tempat dengan sebutan Ujung Perantu tepatnya disebelah selatan Kampung Kelaka'Alah. Dibelakang ujung perantu tersebut terdapat sebuah danau yang dinamakan danau perantu. Kata perantu adalah bahasa tamambaloh yang berarti kubur. Ditengah desa Nanga Embaloh terdapat sebuah sungai yang diberi nama Piang Djangau, kata piang berarti nenek, dibagian timur perkampungan terdapat lagi sungai yang bernama Piang Banang (Nenek Banang), di sebelah utara pekampuangan ada dua buah sungai atau kiri mudik Sungai Kapuas yaitu Sungai Embaloh dan Sungai Pilin yang sampai sekarang masih ada dan didiami Suku Tamambaloh dan TamanPalin.
Penduduk nanga embaloh yang ada sekarang sebetulnya juga berasal dari suku Tamambaloh, seperti lazimnya kelompok Suku Dayak yang telah memeluk Agama Islam selalu menamakan diri mereka Suku Melayu, bukan Suku Melayu dari Riau atau Sumatera Timur, tetapi suku Melayu yang berasal dari Suku Dayak yang memeluk Agama Islam oleh sebab itu adat istiadat antara suku melayu di Nanga Embaloh ada persamaan dengan adat istiadat Suku Tamambaloh. Kata Kelaka' artinya tempat yang ditinggalkan sedangkan Alah artinya kalah. Kekela'Alah merupakan tempat tinggal yang sudah kalah, karena pada masa itu selalu terjadi perang antar suku atau sekelompok musuh baik dalam maupun dari luar, kaerna merasa ketentraman terganggu mereka memilih pindah, ada yang ke Embaloh Hulu sekarang, ada yang ke Sungai Palin sekarang dan bahkan ada yang ke Hulu Sungau Kapuas (sekitar Putussibau sekarang). Semua harta benda ada yang dibawa dan ada juga yang ditinggalkan disimpan pada sebuah danau kecil atau Kerinan yang disebut Kerinan Guci yaitu untuk menyimpan tempayan dan harta berharga lainnya, harta tersebut telah menjadi harta karun tak dapat dilihat dengan kasat mata, konon katanya kecuali ada rahmat dari Yang Maha Kuasa barulah harta tersebut dapat dilihat atau diambil.
Kemudian setelah kelompok masyarakat ini pindah, lalu muncul dua orang tokoh masyarakat, yang seorang bernama Yusuf kemudian bergelar Kiai Mas Suradilaga. Kiai Mas Jaya Laksana mempunyai anak sembilan orang dan disebut kemudian hari sebagai turunan sembilansedangkan Kiai Mas Suradilaga hanya mempunyai seorang anak bernama Jemali. Keturunan kedua orang tersebut sampai sekarang secara turun temurun masih mendiami Nanga Embaloh.
Danau Perantu ini berjarak 1 km dari Nanga Embaloh, dari Putussibau 1 jam menggunakan speed boat 40 HP.

Baca Selengkapnya ....

Wisata Danau Sentarum

Posted by Unknown 0 komentar
Danau Sentarum berjarak 700 km dari Kota Pontianak yang masuk dalam wilayah dataran Daerah Aliran Sungai Kapuas wilayah Kabupaten Kapuas Hulu yang merupakan danau dan rawa yang dangkal serta teras-teras rendah yang sangat luas.

Kawasan Danau Sentarum telah ditetapkan sebagai kawasan Suaka Alam. Danau itu adalah celengan air raksasa. Di musim hujan, Sentarum menabung 25 persen air Sungai Kapuas. Saat kemarau, Sentarum memasok separuh air yang mengaliri Kapuas. Luas seluruh kawasan Danau Sentarum 132.000 ha ditambah dengan 64.000 ha yang diusulkan sebagai daerah penyangga. Sekitar 20 ha merupakan danau musiman yang menjadi penutup daerah seluas 30.500 ha, sisanya merupakan hutan rawa gambut.

Danau Sentarum merupakan daerah retensi/luapan banjir (retarding basin) dari Sungai Kapuas yang merupakan daerah tangkapan air dan sekaligus sebagai pengatur tata air bagi Daerah Aliran Sungai Kapuas. Dengan demikian, daerah-daerah yang terletak di hilir Sungai Kapuas sangat tergantung pada fluktuasi jumlah air yang tertampung di danau tersebut.

Danau Sentarum merupakan komplek danau-danau, lebih dari dua puluh buah danau secara alami bertindak sebagai reservoar. Luapan banjirnya yang melanda bentang Sungai Kapuas secara otomatis akan tertampung di sini. Saat itulah limpahan airnya menggenangi hutan rawa air tawar primer yang ada di kawasan Suaka Margasatwa Danau Sentarum.

Sistem perairan dari danau air tawar dan hutan tergenang ini menjadikan Danau Sentarum tidak seperti danau-danau lainnya. Airnya bewarna hitam kemerah-merahan karena mengandung tannin yang berasal dari hutan gambut di sekitarnya. Pada saat musim hujan, kedalaman air danau tersebut dapat mencapai 6-8 meter dan menyebabkan tergenangnya hutan di sekitarnya.

Namun, bukan fenomena alam ini saja yang menjadi keunikan Danau Sentarum. Danau yang terbentuk pada zaman es atau periode pleistosen ini memiliki kekayaan flora dan fauna yang luar biasa dan tak dimiliki daerah lain. Tumbuhannya saja ada 510 spesies dan 33 spesies di antaranya endemik TNDS, termasuk 10 spesies di antaranya merupakan spesies baru.

Hewan mamalia di TNDS ada 141 spesies. Sekitar 29 spesies di antaranya spesies endemik, dan 64 persen hewan mamalia itu endemik Borneo. Terdapat 266 spesies ikan, sekitar 78 persen di antaranya merupakan ikan endemik air tawar Borneo. Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum tercatat sebagai salah satu habitat ikan air tawar terlengkap di dunia.

Selain hutan yang bagus dan menjadi habitat lebah, TNDS juga menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar. Dari segi ukuran, misalnya, ada jenis ikan terkecil, yang dikenal dengan nama ikan linut (sundasalanx cf. microps) berukuran 1-2 sentimeter dengan tubuhnya yang transparan seperti kaca, hingga ikan berukuran panjang dua meter seperti ikan tapah dari genus Wallago.

Adapun ikan yang bernilai ekonomis dan di konsumsi warga, misalnya, ada ikan gabus, toman, baung, lais, belida, dan jelawat. Khusus ikan hias, di TNDS terdapat ikan silok atau arwana (scleropages formosus) dan arwana merah. Namun, populasi jenis ini sekarang menurun drastis karena harganya yang mahal menyebabkannya di eksploitasi secara berlebihan. Pada kawasan ini tercatat paling tidak 120 jenis ikan, termasuk jenis yang langka serta bernilai tinggi yaitu ikan arwana (scleropages formosus) serta terdapat beberapa jenis spesies yang hanya dimiliki oleh Danau Sentarum dalam artian tidak ditemukan di belahan dunia lain. danau sentarum 1

Berdasarkan hasil laporan penelitian yang telah dilakukan Pusat Lapangan Taman Nasional Danau Sentarum, terdapat beberapa spesies yang masih merupakan catatan karena belum ada nama lainnya. Sebagai habitat ikan air tawar terlengkap di dunia, Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum menjadi daerah penyedia sekaligus sebagai pemasok terbesar ikan hias air tawar diantaranya adalah arwana (scleropages fourmosus) dan ulanguli (botia macracranthus) yang berhasil menembus pasaran internasional dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Pada saat musim kemarau, dimana tinggi air Sungai Kapuas berangsur-angsur turun, air dari Danau Sentarum akan mengalir ke Sungai Kapuas sehingga debit air di sungai tersebut relatif stabil. Akhirnya pada saat puncak musim kemarau, keadaan Danau Sentarum dan daerah sekitarnya akan menjadi hamparan tanah kering yang luas. Ikan-ikan yang tadinya berada di danau, akan terlihat jelas di kolam-kolam kecil.

Bila Danau Sentarum surut airnya kedalaman danau hanya berkisar dua-tiga meter. Padahal, dalam kondisi normal antara tiga hingga delapan meter. Kalau banjir, dalamnya sampai 13 meter. Tetapi, dalam dua tahun terakhir, penurunan air Sentarum sangat ekstrem. Di beberapa bagian, ada yang sampai empat meter dalam tiga hari. Lazimnya cuma setengah meter. Ada yang menduga pembukaan lahan di hulu Kapuas menjadi sebab drastisnya penyusutan air Sentarum. Kawasan bervegetasi baik yang hilang itu memusnahkan fungsi lahan sebagai daerah tangkapan dan resapan hujan.

Di samping potensi perikanan, kawasan Taman Nasional Danau Sentarum juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata andalan bagi Kabupaten Kapuas Hulu dengan memanfaatkan keanekaragaman hayati serta keindahan panorama alam dengan beberapa pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Melayu, Pulau Sepandan ataupun Pulau Bukit Tekenang.*rambe (berbagai sumber)


Baca Selengkapnya ....
Tutorial SEO dan Blog support Online Shop Tas Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Wisata Borneo.